Headlines News :
Home » , » Rangkuman Buku Filsafat Ilmu

Rangkuman Buku Filsafat Ilmu

Written By Mas Wanto on 15 Juli 2012 | Minggu, Juli 15, 2012

                KARANGANJUJUN S. SURIA SUMANTRI
 Oleh : Sarvirawantheworld.blogspot.com


Kata Pengantar

Asalamualaikum wr.wb
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang tiada hentinya memberikan petunjuk, rahmat dan karunia-Nya dengan segala kemudahan-kemudahan sehingga penyusun berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan dosen mata kuliah Filsafat Ilmu FKIP Universitas Bengkulu yaitu merangkum buku Filsafat Ilmu karangan Jujun S. Suriasumantri.
Adapun tujuan dari rangkuman ini adalah selain untuk memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa dan juga sebagai pondasi dasar agar selama melaksanakan studi dua tahun kedepan kita diberi kemudahan dalam menangkap ilmu yang diberikan oleh para pengajar. Karena dengan mempelajari Filsafat Ilmu kita akan lebih memahami bagaimana cara mendalami ilmu dengan benar dan bagaimana cara kita mengaplikasikan ilmu tersebut dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Penyusun sepenuhnya menyadari bahwa rangkuman ini masih jauh dari sempurna. Seperti peribahasa "Tak ada gading yang tak retak". Mungkin itulah yang menggambarkan hasil kerja penyusun. Maka dari itu penyusun menerima saran dan kritikan konstruktif dari pembaca untuk memacu kami supaya lebih baik dimasa yang akan datang.
Akhir kata, semoga rangkuman ini bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca semua pada umumnya dan juga agar dapat menimbulkan kesadaran untuk lebih giat dalam mencari ilmu .


Bengkulu, Desember 2011




                                                                                                  Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR   …………………………………………………….................…...  

DAFTAR ISI    …………………………………………………………………...................    

BAB I KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
1.1. Ilmu dan Filsafat  ……………………………………………………….…………….   
1.2. Karakteristik Filsafat …………………………………………………………………    
1.3. Filsafat : Peneras Pengetahuan  ………………………………………………………   
1.4. Bidang Telaah Filsafat ……………………………………………………………….     
1.5. Cabang-cabang filsafat ………………………………………………………………     
1.6. Filsafat Ilmu …………………………………………………………………………     
1.7. Kerangka Pengkajian Buku ………………………………………………………..…    

BAB II DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2.1. Penalaran …………………………………………………………………………….    
2.2. Hakikat Penalaran …………………………………………………………………...     
2.3. Logika ……………………………………………………………………………….     
2.4. Sumber Pengetahuan…………………………………………………………………     
2.5. Kriteria Kebenaran …………………………………………………………………..     

BAB III ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
3.1. Metafisika ……………………………………………………………………………    
3.2. Beberapa Tafsiran Metafisika ……………………………………………………….     
3.3. Asumsi ………………………………………………………………………………     
3.4. Peluang ………………………………………………………………………………     
3.5. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu ………………………………………………………     
3.6. Batas-batas Penjelajahan Ilmu ………………………………………………………     
3.7. Cabang-Cabang Ilmu ………………………………………………………………..     

BAB IV EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
4.1. Jarum Sejarah Pengetahuan …………………………………………………………      
4.2. Pengetahuan …………………………………………………………………………     
4.3. Metode Ilmiah ………………………………………………………………………      
4.4. Struktur Pengetahuan Ilmiah ……………………………………………………….       

BAB V SARANA BERPIKIR ILMIAH
5.1. Sarana Berpikir Ilmiah ………………………………………………………………      
5.2. Bahasa ……………………………………………………………………………….     
5.3. Matematika …………………………………………………………………………..     
5.4. Statistika …………………………………………………………………………….      

BAB VI AKSIOLOGII: NILAI KEGUNAAN ILMU
6.1. Ilmu Dan Moral ……………………………………………………………………..     
6.2. Tanggung Jawab Sosial Ilmuan ……………………………………………………..      
6.3. Nuklir Dan Pilihan Moral …………………………………………………………..       
6.4. Revolusi Genetika …………………………………………………………………..      

BAB VII ILMU DAN KEBUDAYAN
7.1. Manusia Dan Kebudayaan ………………………………………………………….     
7.2. Kebudayaan Dan Pendidikan ……………………………………………………….     
7.3. Ilmu Dan Perkembangan Kebudayaan Nasional ……………………………………     
7.4. Ilmu Sebagai Suatu Cara berpikir …………………………………………………..      
7.5. Ilmu Sebagai Asas Moral …………………………………………………………..      
7.6. Nilai-Nilai Ilmiah Dan Pengembangan Kebudayaan Nasional …………………….        
7.7. Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan …………………………………………..     
7.8. Dua Pola Kebudayaan ……………………………………………………………...     

BAB VIII ILMU DAN BAHASA
8.1. Tentang Terminologi : Ilmu, Ilmu Pengetahuan Dan Sains ? Dua Jenis Ketahuan …        
8.2. Politik Bahasa Nasional ……………………………………………………………..      

BAB IX PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
9.1. Struktur Penelitian Dan Penulisan Ilmiah …………………………………………..      
9.2. Teknik Penulisan Ilmiah ……………………………………………………………      
9.3. Teknik Notasi Ilmiah ………………………………………………………………..     

BAB X PENUTUP
10.1. Hakikat dan Kegunaan Ilmu ……………………………………………………….      

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

1.1 Ilmu dan Fisafat
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini.
Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah cirri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu ? Dsb.

1.2 Karakteris Filsafat
Menyeluruh : tidak puas mengenali ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri.
Mendasar : tidak percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar.
Spekulatif : mencurigai atau memilih buah pikir yang dapat kita andalkan.

1.3 Filsafat: Peneratas Pengetahuan
Filsafat merupakan langkah awal untuk mengetahui segala pengetahuan.Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu soaial, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat. Sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir bukan pionir karena bukan pengetahuan yang bersifat merinci.

1.4 Bidang Telaah Filsafat
Filsafat menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok, terjawab masalah yang satu diapun mulai merambah

1.5 Cabang Cabang Filsafat
Cabang Cabang Filsafat adalah Epistimologi (Filsafat Pengetahuan), Etika (Filsafat Moral), Etestika (Filsafat Seni), Metafisika, Politik (Filsafat Pemerintahan), Filsafat Agama, Filsafat Ilmu, Filsafat Pendidikan, Filsafat Hukum, Filsafat Sejarah Dan Filsafat Matematika.

1.6 Filsafat ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat Ilmu dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu social, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social dimana keduanya memiliki cirri-ciri keilmuan yang sama.

1.7 Kerangka Pengkajian Buku
Pembahasan buku ini ditunjukan kepada orang awam yang ingin mengetahui aspek kefilsafatan dari bidang keilmuan dan bukan ditujukan kepada mereka yang menjadikan filsafat ilmu sebagai bidang keahlian. Pada dasarnya buku ini mencoba membahas aspek ontologis, epistimologis dan aksiologis keilmuan sambil membandingkan dengan beberapa pengetahuan lain.
Dalam kaitan-kaitan ini akan dikaji hakikat beberapa saran berpikir ilmiah yakni, bahasa, logika, matematika dan statistika. Setelah itu dibahas beberapa aspek yang berkaitan erat dengan kegiatan keilmuan seperti aspek moral, sosial, pendidikan dan kebudayaan. Akhirnya buku ini ditutup dengan pembahasan mengenai struktur penelitian dan penulisan ilmiah dengan harapan agar dapat membantu mereka yang berkarya dalam bidang keilmuan.


BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN

2.1 Penalaran
Penalaran adalah berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Dengan penalaran inilah manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap. Disamping itu manusia juga mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.

2.2 Hakikat Penalaran.
Penalaran mempunyai ciri-ciri: proses berpikir logis atau dan analitis.Penalaran juga merupakan suatu proses berfikir dalam menarik kesimpulan yang berupa ilmu pengetahuan.

2.3 Logika
Logika didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih (Valid). Logika berguna dalam proses penenarikan kesimpulan. Logika dibagi menjadi logika induktif dan logika deduktif.

2.4 Sumber Pengetahuan
Sumber Pengetahuan, pada dasarnya terdapat dua cara kita mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu mendasarkan diri pada rasio atau disebut rasionalisme dan mendasarkan diri pda pengalaman atau disebut empirisme, namun masih terdapat cara lain yaitu intusi (pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu) dan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada manusia lewat perantara nabi-nabi yang diutusnya).

2.5 Kriteria Kebenaran:
  1. Teori Koherensi yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misal kita menganggap bahwa, "semua manusia pasti akan mati" adalah suatu pernyataan benar maka pernyataan bahwa, "si polan adalah seorang manusia dan si polan pasti akan mati" adalah benar pula karena kedua pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
  2. Teori Korespondensi yang ditemukan oleh Bertrand Russell (1872-1970). Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi ibukota republik Indonesia.
  3. Teori Pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.Misalnya jika orang menyatakan sebuah teori X dalam pendidikan, dan dengan teori X tersebut dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar, maka teori X itu dianggap benar sebab teori X ini fungsional dan mempunyai kegunaan.

BAB III
ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI

3.1 Metafisika
Metafisika adalah bidang telaah filsafati yang merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah.

3.2 Beberapa Tafsiran Metafisika
  1. Supernaturalisasi adalah paham yang menyatakan bahwa terdapat ujud-ujud bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebikuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
  2. Naturalisme adalah paham yang menyatakan bahwa gjala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang tedapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui.

3.3 Asumsi
Asumsi merupakan dugaan-dugaan sementara yang belum jelas kebenarannya, karena belum ada fakta pendukung yang valid. Ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari, tidaklah perlu memiliki kemutlakan seperti halnya agam. Walaupun demikian sampai tahap tertentu ilmu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi.

3.4 Peluang
Peluang adalah kemungkinan kejadian.
3.5 Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
  1. Asumsi yang mendasari telah ilmiah
  2. Asumsi yang mendasari telaah moral
3.6 Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Batas-Batas Penjelajahan Ilmu adalah pengalaman manusia dan pengetahuan yang telah diuji kebenaranya secra empiris.
3.7 Cabang-Cabang Ilmu
Dua cabang utamanya yaitu:
  1. Filsafat alam yang kemudian menjadi ilmu-ilmu alam (the natural science)
  2. Filsafat moral yang kmudian menjadi ilmu-ilmu sosial (the social science)
Disamping itu terdapat juga : Ilmu Humaniora dan Ilmu Matematika.]


BAB IV
EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR

4.1 Jarum Sejarah Pengetahuan
Pada waktu dulu kriteria kesamaan yang menjadi konsep dasar. Semua menyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengambang. Tidk terdapat jarak antara objek yang satu dengan objek yang lain, antara ujud yang satu dengan ujud yang lain. Konsep dasar ini baru mengalami perubahan fundamental dengan berkembangnya abad penalaran pada pertengahan abad ke 17.
Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahuinya dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan. Berdasarkan objek yang ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social. Dari cabang ilmu yang satu sekarang ini diperkirakan berkembang lebih dari 650 cabang disiplin ilmu.

4.2 Pengetahuan
Pengetahuan pada hakekatmya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu, termasuk kedalamnya adalah ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai jenis pengetahuan lainya seperti seni dan agama. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
Setiap jenis pengetahuan mempunyai cirri-ciri spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Jika ilmu mencoba mengembangkan sebuah model yang sederhana mengenai dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variable yang terikat dalam sebuah hubungan yang bersifat rasional, maka seni (paling tidak seni sastra), mencoba mengungkapkan obyek penelaahan itu sehingga menjadi bermakna bagi pencipta dan mereka yang meresapinya, lewat berbagai kemampuan manusia untuk menangkapnya, seperti pikiran emosi dan pancaindra.
Satu jembatan yang menghubungkan antara seni terapan dengan ilmu dan teknologi adalah pengembangan konsep teoritis yang besifat mendasar yang selanjutnya dijadikan tumpuan untuk mengembangkan pengetahun ilmiah yang bersifat integral. Ilmu dan filsafat dimulai dengan akal sehat sebab tak mempunyai landasan permulaan lain untuk berpijak.

4.3 Metode Ilmiah
Metode Ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu didapat dari metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu.
Syarat yang harus dipenuhi agar pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam  metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerjanya pikiran, sehingga pengetahuan yang dihasilkan mempunyai karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya. Proses kegiatan ilmiah menurut Ritchie Calder dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Sehingga, karena masalah ini berasal dari dunia empiris, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan objek yang bersangkutan yang bereksistensi dalam dunia empiris pula.
Teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Adapun tahapan dalam kegiatan ilmiah, yaitu:
  1. Perumusan Masalah
  2. Penyusunan kerangka berpikir
  3. Perumusan hipotesis
  4. Pengujian hipotesis
  5. Penarikan kesimpulan.

4.4  Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ada pun struktur pengetahuan ilmiah sebagai berikut :
  1. Teori yang merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.
  2. Hukum yang merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat.
  3. Prinsip yang dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi.
  4. Postulat yang merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya.

BAB V
SARANA BERPIKIR ILMIAH

5.1 Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah demham baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dam statistika.

5.2.Bahasa
            Keunikan manusia sebenarnya bukan terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasanya. Tanpa bahasa maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dilakukan, tanpa kemampuan berbahasa manusia tidak mungkin mengembangkan kebudayaannya, dan tidak dapat mengkomunikasikan pengetahuan kepada orang lain.
Jika kita berbicara maka hakikat informasi yang kita sampaikan mengandung unsur emotif, demikian jika kita menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur informatif. Bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan sikap

5.3 Matematika
            Matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang kita sampaikan, lambang dari matematika bersifat artifisialis, mempunyai arti jika diberikan sebuah makna kepadanya. Matematika bersifat kuantitatif dan sebagai sarana berpikir deduktif.

5.4 Statistika
Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika, merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno,Romawi dan bahkan Eropa dalam abad pertengahan. Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang dikembangkan sarjana Muslim namun bukan dalam lingkup teori peluang.
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Statistika memberikan cara untuk dapat menaruk kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut.
Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalita antara dua faktor atau lebih bersifat kebetuln atau memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris.


BAB VI
AKSIOLOGI : NILAI KEGUNAAN ILMU

6.1 Ilmu dan Moral
Benarkah bahwa makin cerdas, maka makin pandai kita menemukan kebenaran, makin benar maka makin baik pula perbuatan kita? Apakah manusia mempunyai penalaran tinggi, lalu makin berbudi, sebab moral mereka dilandasi oleh anlisis yang hakiki, atau sebaliknya makin cerdas maka makin pandai pula kita berdusta?. Masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan, maka dalam tahap manipulasi ini masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah.
Ontologi diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari objek yang di telaah dalam membuahkan pengetahuan, aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Sokrates minum racun, John Huss dibakar sebagai contoh betapa ilmuan memiliki landasan moral, jika tidak ilmuan sangat mudah tergelincir dalam prostitusi intelektual.

6.2 Tanggung Jawab Sosial Ilmuan
Seorang ilmuan mempunyai tanggung jawab sosial di bahunya. Bukan saja karena ia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung dengan di masyarakat yang yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam keberlangsungan hidup manusia.
Sampai ikut bertanggung jawab agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sikap sosial seorang ilmuan adalah konsisten dengan proses penelaahan keilmuan yang dilakukan. Sering dikatakan bahwa ilmu itu bebas dari sistem nilai. Ilmu itu sendiri netraldan para ilmuanlah yang memberikannya nilai.

6.3 Nuklir dan Pilihan Moral
Seorang ilmuan secara moral tidak akam membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri. Seorang ilmuan tidak boleh berpangku tangan, dia harus memilih sikap, berpihak pada kemanusiaan. Pilihan moral memang terkadang getir sebab tidak bersifat hitam di atas putih. Seperti halnya yang terjadi pada Albert Einstein diperintahkan untuk membuat bom atom oleh pemerintah negaranya.
Seorang ilmuan tidak boleh menyembunyikan hasil penemuannya, apapun juga bentuknya dari masyarakat luas serta apapun juga konsekuensi yang akan terjadi dari penemuannya itu. Seorang ilmuan tidak boleh memutar balikkan temuannya jika hipotesis yang dijunjung tinggi tersusun atas kerangkan pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian.

6.4 Revolusi Genetik
Revolusi Genetik merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuwan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai objek penelaah itu sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa sebelumnya tidak pernah ada penelaahan ilmiah yang berkaitan dengan jasad manusia, tentu saja banyak sekali, namun penelaahan-penelaahan itu dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi.
Dengan penelitian genetika maka masalahnya menjadi sangat lain, kita tidak lagi menelaah organ-organ manusia dalam upaya untuk menciptakan teknologi yang memberikan kemudahan bagi kita, melainkan manusia itu sendiri sekarang menjadi objek penelaah yang akan menghasilkan bukan lagi teknologi yang memberikan kemudahan, melainkan teknologi untuk mengubah manusia itu sendiri. Pembahasan ini berdasarkan kepada asumsi bahwa penemuan dalam riset genetika akan dipergunakan dengan itikad baik untuk keluhuruan manusia.


BAB VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN

7.1 Manusia dan Kebudayan
Manusia dalam kehidupan mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya kebutuhan hidup iilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini, menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadapa kebutuhan dasar hidupnya.
Manusia berbeda dengan binatang bukan saja dalam banyaknya kebutuhan namun juga dalam cara memenuhi kebutuhan tersebut. Kebudayaanlah, dalam konteks ini, yang memberikan garis pemisah antara manusia dan binatang. Maslow mengidentifikasikan lima kelompok kebutuhan manusaia yakni kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi.

7.2 Kebudayaan dan Pendidikan
Allport, Venon dan lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik, dan agama .Yang dimaksud dengan nilai teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metoda ilmiah.
Setiap kebudayaan mempunyai skala hirarki mengenai mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting dari nilai-nilai tersebut di atas serta mempunyai penilaian sendiri dari tiap-tiap katagori.

7.3 Ilmu dan Perkembangan Kebudayaan Nasional.         
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. Disatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung kondisi kebudayaannya, tapi dipihak lain pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan. Menurut Talcot Persons :"Ilmu dan kebudayaan itu terpadu secara intim dengan seluruh struktur sosial dan tradisi kebudayaan "
Peranan ganda ilmu dalam pengembangan kebudayaan nasional adalah sebagai berikut :
1.      Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya perkembangan kebudayaan nasional
2.      Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Kedua hal ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan. Pengkajian perkembangan kebudayaan nasioal tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu.
Seiring perjalan waktu, dewasa ini kurun ilmu dan teknologi menjadi pengembangan utama bidang ilmu dan secara tidak langsung kebudayaan kita tak terlepas dari pengaruhnya, sehingga kita harus ikut memperhitungkan hal ini. Untuk itu dibicarakan peranan ilmu sebagai sumber nilai yang ikut mendukung pengembangan kebudayaan nasional.

7.4 Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir
Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yang memiliki dua kriteria utama, yaitu :
1.Pernyataan harus logis.
2.Didukung fakta empiris (Empiris : berdasarkan pengalaman dan pengetahuan)
Kedua kriteria tersebut saling mengikat, yang pertama setiap pernyataan yang disampaikan harus logis dan diperolah dari fakta-fakta empiris, merupakan hakikat berpikir ilmiah.
Dari hakikat ini, kita dapat menyimpulakan beberapa karakteristik ilmu :
1.      Ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yang benar.
2.Akar berpikir yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada.
3.Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif.
4.Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi
Maka disimpulkan manfaat karakteristik ilmu ialah rasional,logis,objektif dan terbuka dan kritis sebagai landasannya.

7.5 Ilmu Sebagai Asas Moral
Artinya dalam menetapkan suatu pernyataan apakah itu benar atau tidak maka seorang ilmuwan akan menarik kesimpulannya kepada argumentasi yang terkandung dalam pernyataan itu dan bukan kepada pengaruh yang berbentuk kekuasaan dari kelembagaan yang mengeluarkan pernyataan itu.
Hal ini sering menempatkan ilmuwan pada tempat yang bertentangan dengan pihak yang berkuasa yang mungkin mempunyai kriteria kebenaran yang lain.Kriteria ilmuwan dan politikus dalam membuat pernyataan adalah berbeda. Menurut Szilard : jika seorang ilmuwan mengatakan sesuatu, rekan rekannya pertama kali akan bertanya apakah yang dinyatakan itu mengandung kebenaran.
Sebaliknya jika seorang politikus mengatakan sesuatu maka rekan rekannya pertama kali akan bertanya, " mengapa ia menyatakan hal itu "  lalu bertanya pernyataan itu mengandung kebenaran atau tidak..
Disamping itu kebenaran bagi ilmuwan mempunyai kegunaan yang universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat ke manusiaanya.
Dalam kenyataannya pelaksanaan asas moral ini tidak mudah sebab tahap perkembangan ilmu yang sangat awal kegiatan ilmiah ini dipengaruhi oleh struktur kekuasaan dari luar. Menurut Bachtiardalam Jujun. S. Suriasumantri ( 1998,275) lebih menonjol lagi pada Negara yang sedang berkembang, karena sebagian besar kegiatan keilmuan merupakan kegiatan aparatur negara.

7.6. Nilai-Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
Ada 7 nilai yang terkandung dalam dari hakikat keilmuan yaitu kritis, rasional, logis, objektif , terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal. Ketujuh sifat ini sangat konsisten untuk membentuk bangsa yang modern. Karena bangsa yang modern akan menghadapi banyak tantangan di segala bidang kehidupan.

7.7   Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan
Jika menurut kita benar bahwasanya ilmu bersifat mendukung budaya nasional,maka kita perlu meningkatkan peranan keilmuan dalam kehidupan kita. Beberapa langkah yang dapat kita gunakan yang pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagai berikut:
  1. Ilmu merupakan bagian kebudayaan,sehingga setiap langkah dalam kegiatan peningkatan ilmu harus memperhatikan kebudayaan kita.
  2. Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran.
  3. Asumsi dasar dari setiap kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah percaya dengan metode yang digunakan.
  4. Kegiatan keilmuan harus dikaitkan dengan moral.
  5. Pengembangan keilmuan harus seiring dengan pengembangan filsafat
  6. Kegiatan ilmah harus otonom dan bebas dari kekangan struktur kekuasaan.
Keenam hal ini merupakan langkah-langkah untuk memberi kontrol bagi masyarakat terhadap kegiatan ilmu dan teknologi.

7.8   Dua Pola Kebudayaan
Dua pola kebudayaan dan ilmu yang bergulir di Indonesia, adalah ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social. Kenapa hal ini terjadi,ini terjadi karena besarnya perbedaan antara ilmu social dan ilmu alam. Contohnya, jika kita belajar ilmu alam dengan subjek batu, kira-kira saat lain di teliti lagi maka kemungkinan besar akan berhasil dengan nilai yang sama,tetapi tidak demikin dalam ilmu social, dalam ilmu social, ilmu social bergerak lebih fleksibel dan dapt berubah sewaktu-waktu.
Namun kedua hal itu bukan merupakan masalah, kedua hal itu tidak mengubah apa yang menjadi tujuan penelitian ilmiah. Ilmu bukan bermaksud mengumpulkan fakta tapi untuk mencari penjelasan dari gejala-gejala yang ada, yang memungkinkan kita mengetahui kebenaran hakikat objek yang kita hadapi.
Ada dua factor yang menjadi landasan suatu analisis kuantitatif ilmu social yaitu: sulitnya melakukan pengukuran,karena emosi dan aspirasi merupakan unsure yang sulit dan yang kedua banyaknya variable yang mempengaruhi tingkah laku manusia.
Hal seperti inilah yang menyebabkan ilmu alam lebih maju dari pada ilmu social. Itu dikarenakan ilmu social lebih terpaku pada tahap kualitatif,dan untuk mengubah ini ilmu social harus lebih masuk ketahap kuantitatif.
Pada akhirnya harus kita sadari bahwa adanya dua jurusan dalam bidang ilmu ini memerlukan suatu usaha yang fundamental dan sistematis dalam menghadapinya. Karena bagaimanapun ilmu social tidak dapat terpisah dan berdiri sendiri dan begitupun ilmu alam tetap terikat secara social.


BAB VIII
ILMU DAN BAHASA

8.1  Tentang Terminologi : Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan sains ? Dua Jenis Ketahuan
Manusia dengan segenap kemampun kemanusiannya seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam hidupnya dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk "ketahuan umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah, filsafat.
Terminologi ketahuan ini adalah termonologi artifisial yang bersifat sementara sebagai analisis yang pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu . Apa yang kita peroleh dalam proses mengetahui tersebut tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya kita masukan kedalam kategori yang disebut ketahuan ini. Dalam bahasa inggris sinonim dari ketahuan ini adalah knowledge.
Ketahuan atau knowledge ini merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, beladiri, cara menyulam dan biologi itu sendiri.

8.2  Politik Bahasa Nasional
Pada tanggal 28 oktober 1928 bangsa Indonesia telah memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasioal. Alasan utama pada waktu itu lebih ditekankan pada fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mengintegritaskan berbagai suku kedalam satu bangsa yakni Indonesia. Tentu saja terdapat juga evalusai yang berkonotasi dengan ketentuan Bahasa Indonesia selaku fungsi komunikatif yakni fakta bahwa Bahasa Indonesia merupakan lingua franca dari sebagian besar penduduk,
Selaku alat komuniksi pada pokoknya bahasa mencakup tiga unsur yakni, pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif), kedua, berkonotasi sikap (afektif) dan, ketiga, berkonotasi pikiran (penalaran). Atau secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi komunikasi bahasa dapat diperinci lebih lanjut menjadi fungsi emotif, afektif dan penalaran.


BAB IX
PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH

9.1    Langkah –Langkah dalam Penulisan Ilmiah

 1.  Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah
Pengajuan Masalah,
Latar Belakang Masalah,
Identifikasi Masalah,
Pembatasan Masalah,
Perumusan Masalah,
Tujuan Penelitian, dan Kegunaan Penelitian
    2.  Penyusunan Kerangka Teoritis Dan Pengajuan Hipotesis
Pengkajian mengenai teori-teori yang akan dipergunakan dalam analisa.
Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan;
Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis dengan mempergunakan  premis-premis yang tercantum pada butir (1) dan butir (2) dengan menyatakan  secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipakai ( bila dipergunakan);
Perumusan hipotesis
    3.  Metodologi Penelitian
Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasi variabel-variabel dan karakteristik hubungan yang akan ditelit;
Tempat dan waktu yang akan dilakukan generalisasi mengenai variabel yang diteliti;
Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisai yang diharapkan;
Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian, tigkat keumuman dan metode penelitian.
Teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber, teknik pengukuran, instrumen dan teknik mendapatkan data.
Teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan yang ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis (sekiranya memakai statistika maka tulisan hipotesis nol dan hipotesis tandingan; H0 / H1).
    4.  Hasil Penelitian
Menyatakan variabel-variabel yang diteliti;
Menyatakan teknik analisis data;
Mendeskripsikan hasil analisis data;
Memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data;
    5   Ringkasan dan Kesimpulan
Deskripsi singkat mengenai masalah, krangka teoretis, hipotesis, metodologi dan penemuan penelitian;
Kesimpulan penelitian merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek di atas;
Pembahasan kesimpulan penelitian dengan cara membandingkan dengan penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang relevan;
Mengkaji implikasi penelitian;   
Mengajukan saran
    6.  Abstrak
    7.  Daftar Pustaka
    8.  Riwayat Hidup
    9.  Usulan Penelitian
  10.  Lain-lain
  11.  Penutup
  12.  Catatan Akhir

9.2 Teknik Penulisan Ilmiah
Teknik Penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yag bersifat reproduktif dan impersonal.

9.3 Teknik Notasi Ilmiah
Tanda catatan kaki diletakan di ujung kalimat yang kita kutip dengan mempergunakan angka arab yang diketik naik setengah spasi. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai dari angka 1 sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki sekiranya kalimat itu terdiri dari beberapa kutipan. Semua kutipan, baik yang dikutup secara langsung maupun secara tidak langsung, Sumbernya kemudian kita sertakan dalam daftar pustaka.


BAB X
PENUTUP

10.1 Hakikat dan Kegunaan Ilmu
Ilmu memiliki fungsi yang bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah atau kepuasan jiwa. Jiwa kita tergetar, terharu, tersenyum oleh komunikasi aristik, menyebabkan dunia makna yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.



DAFTAR PUSTAKA

S. Suriasumantri, Jujun. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007
Berbagai sumber


Share this post :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Mas Wanto Template | Find The World
Copyright © 2013. Find The World - All Rights Reserved
Template Created by Creating Published by Mas Wanto
Proudly powered by Find The World