Headlines News :
Home » » Perang Bali tahun 1846-1849

Perang Bali tahun 1846-1849

Written By Mas Wanto on 13 Oktober 2012 | Sabtu, Oktober 13, 2012




Perang Bali tahun 1846-1849

Apakah Anda pernah berkunjung atau wisata ke Pulau Bali? Jika Anda berkunjung ke Bali biasanya akan menuju kota Denpasar yang terletak di wilayah Badung. Selain Badung pada abad 19 yang lalu terdapat beberapa kerajaan lain seperti Buleleng, Klungkung dan seterusnya seperti yang dapat Anda lihat pada peta di bawah ini. 


Pada abad 19 sesuai dengan cita-citanya mewujudkan Pax Netherlandica (perdamaian di bawah Belanda), Pemerintah Hindia Belanda berusaha membulatkan seluruh jajahannya atas Indonesia termasuk Bali. Upaya Belanda itu dilakukan antara lain melalui perjanjian tahun 1841 dengan kerajaan Klungkang, Badung dan Buleleng. Salah satu isinya bebunyi: Raja-raja Bali mengakui bahwa kerajaankerajaan di Bali berada di bawah pengaruh Belanda. Perjanjian ini merupakan bukti keinginan Belanda untuk menguasai Bali.

Apakah faktor yang menyebabkan timbulnya perang Bali antara tahun 1846- 1849? Masalah utama adalah adanya hak tawan karang yang dimiliki raja-raja Bali. Hak ini dilimpahkan kepada kepala desa untuk menawan perahu dan isinya yang terdampar di perairan wilayah kerajaan tersebut. Antara Belanda dengan pihak kerajaan Buleleng yaitu Raja I Gusti Ngurah Made Karang Asem besarta Patih I Gusti Ketut Jelantik telah ada perjanjian pada tahun 1843 isinya pihak kerajaan akan membantu Belanda jika kapalnya terdampar di wilayah Buleleng namun perjanjian itu tidak dapat berjalan dengan semestinya.

Pada tahun 1844 terjadi perampasan terhadap kapal-kapal Belanda di pantai Prancah (Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng bagian Timur). Belanda menuntut agar kerajaan Buleleng melepaskan hak tawan karangnya sesuai perjanjian tahun 1843 itu namun ditolak. Kejadian tersebut dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang Buleleng.

Bagaimana jalannya perang Bali? Pantai Buleleng diblokade dan istana raja ditembaki dengan meriam dari pantai. Satu persatu daerah diduduki dan istana dikepung oleh Belanda. Raja Buleleng berpura-pura menyerah kemudian perlawanan dilanjutkan oleh Patih I Gusti Ketut Jelantik.

Perang Buleleng disebut juga pertempuran Jagaraga karena pusat pertahanannya adalah benteng di desa Jagaraga. Perang ini disebut pula Perang Puputan mengapa? Karena perang dijiwai oleh semangat puputan yaitu perang habis-habisan. Bagi masyarakat Bali, puputan dilakukan dengan prinsip sebagai berikut:
-
Nyawa seorang ksatri berada diujung senjata kematian di medan pertempuran merupakan kehormatan.
-
Dalam mempertahankan kehormatan bangsa dan negara maupun keluarga tidak dikenal istilah menyerah kepada musuh.
-
Menurut ajaran Hindu, orang yang mati dalam peperangan, rohnya akan masuk surga.

Benteng Jagaraga berada di atas bukit, berbentuk “Supit Urang” yang dikelilingi dengan parit dan ranjau untuk menghambat gerak musuh. Selain laskar Buleleng maka raja-raja Karangasam, Mengwi, Gianyar dan Klungkung juga mengirim bala bantuan sehingga jumlah seluruhnya mencapai 15000 orang. Semangat para prajurit ditopang oleh isteri Jelantik bernama Jero Jempiring yang menggerakkan dan memimpin kaum wanita untuk menyediakan makanan bagi para prajurit yang bertugas digaris depan.

Pada tanggal 7 Maret 1848 kapal perang Belanda yang didatangkan dari Batavia dengan 2265 serdadu mendarat di Sangsit. Parukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jendral Van der Wijck menyerang Sangsit lalu menyerbu benteng Jagaraga. Serangan Belanda dapat digagalkan. Setelah gagal, bagaimana upaya Belanda untuk menundukkan Bali? Pada tanggal 1849 Belanda mendatangkan pasukan yang lebih banyak berjumlah 15000 orang lebih terdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, artileri dan Zeni dipimpin oleh Jendral Mayor A.V Michiels dan Van Swieten. Benteng Jagaraga dihujani meriam dengan gencar. Tak ada seorangpun laskar Buleleng yang mundur, mereka semuanya gugur pada tangal 19 April 1849 termasuk isteri Patih Jelantik yang bernama Jero Jempiring. Dengan jatuhnya benteng Jagaraga maka Belanda dapat menguasai Bali utara. Selain puputan Buleleng, perlawanan rakyat Bali juga terjadi melalui puputan Badung, Klungkung dan daerah lain walaupun akhirnya pada tahun 1909 seluruh Bali jatuh ke tangan Belanda.

Untuk lebih memahami uraian tentang perang Bali, selesaikanlah jawaban dari masalah-masalah yang tersaji pada kolom di bawah ini.
Berikan penjelasan tentang masalah, tokoh sekitar Perang Bali yang tertera di bawah ini.


 Setelah Anda menjelaskan masalah/tokoh di atas maka kemudian cocokkan dengan uraian di bawah ini:
1.
Pengakuan bahwa kerajaan-kerajaan di Bali berada di bawah pengaruh Belanda
2.
Hak untuk menawan perahu beserta isinya yang terdampar di wilayah kerajaan tertentu di Bali
3.
Perang habis-habisan berdasar prinsip

-
kematian seorang ksatria di medan perang merupakan kehormatan

-
dalam pertempuran mempertahankan kehormatan pantang menyerah.

-
Kematian di medan perang, rohnya akan masuk surga.
4.
Benteng yang pintu keluarnya bisa dari dua arah menuju satu sasaran.
5.
I Gusti Ngurah Made Karangasem dan I Gusti Ketut Jelantik
6.
Isteri Patih Jelantik yang ikut berperang mengerahkan kaum wanita untuk menyediakan makanan bagi prajurit di Jagaraga dan gugur.

Tentu jawaban Anda sudah tepat kan? Betapa mulianya rakyat Bali yang relah mengorbankan nyawa untuk mempertahankan kehormatan bangsanya. Sebagai urutan ke lima, berikut ini dapat Anda pelajari tentang Perang Banjar.


Share this post :

+ komentar + 1 komentar

2 Januari 2018 pukul 11.06

Wow, tulisannya lengkap dan detail sekali. Pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menulis sejarah perang Bali sedemikian rupa.

Berwisata dapat membuat kulit bermasalah karena paparan sinar matahari dan polusi. Kesehatan kulit dapat terus dijaga dengan menggunakan sabun berbahan alami. kegunaan sabun Black Walet

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Mas Wanto Template | Find The World
Copyright © 2013. Find The World - All Rights Reserved
Template Created by Creating Published by Mas Wanto
Proudly powered by Find The World