Headlines News :
Home » » MODEL PEMBELAJARAN JURISPRUDENSIAL

MODEL PEMBELAJARAN JURISPRUDENSIAL

Written By Mas Wanto on 24 Oktober 2012 | Rabu, Oktober 24, 2012


MODEL PEMBELAJARAN JURISPRUDENSIAL
(BELAJAR UNTUK MENGKAJI KEBIJAKAN SOSIAL)


PENDAHULUAN
Model pembelajaran merupakan “Kerangka  konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu serta berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran” (Soekamto dkk., 1993) Sedangkan menurut Arend (1997) mengemukakan pengertian model pembelajaran adalah “The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes is goals, syntax, environment, and management systems”.
Teori belajar yang mendasari model pembelajaran antara lain:
Konstruktivisme merupakan teori tentang belajar, teori tentang penciptaan makna. Teori ini menyatakan bahwa setiap individu menciptakan makna dan pengertian baru, berdasarkan interaksi antara apa yang telah dimiliki, diketahui dan dipercayai, dengan fenomena, ide atau informasi baru yang dipelajari (Piaget).
Setiap siswa membawa pengertian dan pengetahuan awal yang sudah dimilikinya ke dalam setiap proses belajar, yang harus ditambahkan, dimodifikasi, diperbaharui, direvisi, dan diubah oleh informasi baru yang dijumpai dalam proses belajar.

Latar Belakang Masalah
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam model pembelajaran antara lain:
Model pembelajaran jurispudensial ini melatih siswa untuk peka termadap permasalahan sosial, mengambil posisi/sikap terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumentasi-argumentasi yang relevan dan valid.
Guru tidak harus menerapkan seluruh model, tetapi guru yang kreatif selalu bersemangat mencoba hal yang baru. Model yang perlu dipelajari pada tahap awal dipilih salah satu model untuk setiap kelompok/rumpun kemudian berlatih menerapkannya. Cara memilih model adalah berkaitan antara rumpun model dengan bidang studi di sekolah. Kemudian pilih model yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Waktu diperlukan untuk mempelajari suatu model Tidak ada jawaban pasti. Tergantung pada motivasi, pengalaman menerapkan suatu model,  waktu yang tersedia, dan kesempatan belajar dari orang lain. Kesulitan yang ditemukan dalam menerapkan model berasal dari guru dan siswa yang kurang akrab dengan suatu model.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas  dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.                  Bagaimana tujuan dan asumsi pembelajaran model jurisprudensial ?
2.                  Apa saja tahapan model pembelajaran jurisprudensial  ?
3.                  Bagaimana struktur dari model pembelajaran jurisprudensial ?
4.                  Bagaimana reaksi pengajar dari pembelajaran jurisprudensial ?
5.                  Apa bahan utama yang diperlukan dalam model pembelajaran jurisprudensial ?
6.                  Apa dampak instruksional dan pengiring dari model pembelajaran jurisprudensial ?

MODEL PEMBELAJARAN JURISPRUDENSIAL
A.    TUJUAN DAN ASUMSI
Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986:260-267) model ini memiliki sejumlah karakteristik. Dasar pemikiran model ini adalah konsepsi tentang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain untuk memecahkan masalah yang kontrovensional dalam konteks sosial yang produktif.  Setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik melakukan kesempatan dengan orang lain.
Setiap warga negara harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengambil contoh masalah sosial yang paling tepat, yang pada hakikatnya berkenaan dengan dengan konsep keadilan, hak asasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut harus diperlukan tiga kemampuan, yakni:
a) mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada di lingkungan negaranya.
b) memiliki seprangkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam menjernihkan dan memecahkan masalah nilai; dan
c)   menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya.
            Hal yang paling tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik antargolongan, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan serta keamanan nasional. Lingkup dan tingkat kemampuan dari masing-masing bidang kajian tersebut, tentu saja harus disesuaikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa.

B.     SINTAKMATIK
Model jurisprudensial ini memiliki enam tahap, di antaranya sebagai berikut.
Tahap Pertama: Orientasi Terhadap Kasus.
a)      pengajaran mengenalkan bahan-bahan ; dan
b)      pengajaran melihat ulang data yang tersedia.
Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus.
a)      Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi;
b)      Siswa memilih salah satu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan;
c)      Siswa mengidentifikasikan nilai-nilai dan konflik nilai; dan
d)     Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan.
Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi
Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya. Kemudian penyatakan kedudukannya dalam konflik nilai itu dalam hubungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu.
Tahap Keempat:Mengeksplorasi Contoh-contoh dan Pola Argumentasi.
Menetapkan titik di tempat terlihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh;
a)      Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih;
b)      Menjernihkan konflik nilai dengan melakukan proses analogai; dan
c)      menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya bila memiliki salah satu nilai.
Tahap Kelima: Menjernihkan dan menguji posisi .
a)      Siswa menyatakan posisinya dan memberikan rasioanal mengenai posisinya dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa ; dan
b)      Siswa meluruskan posisinya
Tahap Keenam: Mengetes asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskan.
a)      mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tindakannya;dan
b)      menetapakan kosekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dan kosekuensi  itu.

C.    SISTEM SOSIAL
Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang berstruktur sederhana sampai yang kompleks. Secara umum, pengajar mulai membuka tahapan dan bergerak dari tahap satu ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. Setelah siswa mengalami satu kali proses jurisprudensial, diharapakn masing-masing akan dapat melakukannya tanpa bantuan dari orang lain.

D.    PRINSIP REAKSI
Reaksi pengajar, terutama terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa reaksi terhadap komentar siswa dengan cara memberikan pertanyaan mengenai relevansi, keajegan, kekhususan, atau keumuman dan kejelasan secara definisi. Untuk dapat mengatisipasi nilai yang dianjurkan untuk melacaknya lebih jauh. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis.

E.     SISTEM PENDUKUNG
Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumber-sumber dokumen yang relavan dengan masalah. Seyognya disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus faktual. Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka, atau yang memang sukar diperoleh oleh siswa. Di dalam menerangkan model ini perlu diperhatikan hal-hal, seperti tingkat usia siswa dan lingkungan belajar yang ada.

F.     DAMPAK INSTRUKSIONAL DAN PENGIRING
Model jurisprudensial ini memiliki dampak instruksional dan pengiring, sebagaimana terlihat dengan gambar berikut:

NO
MODEL  JURISPRUDENSIAL
DAMPAK INSTRUKSIONAL
DAMPAK PENGIRING
1
Kerangka untuk menganalisis isu-isu Sosial
Empathy/pluralisme
2
Kemampuan Mengasumsikan Peranan Orang lain
Fakta tentang Masalah Sosial
3
Kemampuan dalam Berdialog
Kemampuan untuk berpartisipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial

Untuk kepentingan praktis, para pembelajar dapat mengaplikasikan dengan menggunakan kerangka operasional  sebagai berikut:


No.
Model  Jurisprudensial
Kegiatan Pengajar
Langkah Pokok
Kegiatan Siswa
1.
Perkenalkan bahan-bahan ; dan
review data yang tersedia
Orientasi kasus
Temukan dan pilih suatu kasus
2.
Ciptakan suasana menantang
Identifikasi masalah
Kaitkan fakta dengan kasus;
rumuskan satu masalah; dan
identifikasi konflik nilai
3.
Ajukan pertanyaan nilai
Penetapan posisi
Jajaki berbagai posisi nilai; dan
antisipasi konsekuesi setiap posisi.
4.
Minta contoh dan alasannya
Contoh dan argumentasi
Cari variasi contoh yang mendukung, posisi yang dipilih; dan
5.
Minta satu pilihan nilai
Penguji posisi
Nyatakan satu posisi nilai; dan
beri penalaran atas posisi tersebut
6.
Ajukan variasi pelacakan
Pengetesan asumsi
Kaji kesahihan posisi nilai yang dipilih.


PEMBAHASAN
Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986:260-267) model ini memiliki sejumlah karakteristik. Dasar pemikiran model ini adalah konsepsi tentang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain untuk memecahkan masalah yang kontrovensional dalam konteks sosial yang produktif. 
Hal yang paling tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik antargolongan, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan serta keamanan nasional. Lingkup dan tingkat kemampuan dari masing-masing bidang kajian tersebut, tentu saja harus disesuaikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa.
Model jurisprudensial ini memiliki enam tahap, di antaranya sebagai berikut.
1.       Orientasi Terhadap Kasus.
2.      Mengidentifikasi Isu atau Kasus.
3.      Menetapkan Posisi
4.      Mengeksplorasi Contoh-contoh dan Pola Argumentasi.
5.      Menjernihkan dan menguji posisi .
6.      Mengetes asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskan.
Secara umum, pengajar mulai membuka tahapan dan bergerak dari tahap satu ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. Setelah siswa mengalami satu kali proses jurisprudensial, diharapakn masing-masing akan dapat melakukannya tanpa bantuan dari orang lain.
Reaksi pengajar, terutama terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa reaksi terhadap komentar siswa dengan cara memberikan pertanyaan mengenai relevansi, keajegan, kekhususan, atau keumuman dan kejelasan secara definisi. Untuk dapat mengatisipasi nilai yang dianjurkan untuk melacaknya lebih jauh. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis.
Model jurisprudensial ini memiliki dampak instruksional dan pengiring.
Dampak instruksional :
1.      Kerangka untuk menganalisis isu-isu Sosial
2.      Kemampuan Mengasumsikan Peranan Orang lain
3.      Kemampuan dalam Berdialog
Dampak pengiring :
1.      Empathy/pluralism
2.      Fakta tentang Masalah Sosial
3.      Kemampuan untuk berpartisipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial
Untuk kepentingan praktis, para pembelajar dapat mengaplikasikan dengan menggunakan kerangka   operasional  sebagai berikut:
Kegiatan Pengajar :
(1)      Perkenalkan bahan-bahan dan review data yang tersedia (2) Ciptakan suasana menantang (3) Ajukan pertanyaan nilai (4) Minta contoh dan alasannya (5) Minta satu pilihan nilai (6) Ajukan variasi pelacakan
Langkah – langkah pokok
(1)      Orientasi kasus (2) Identifikasi masalah, (3) Penetapan posisi (4) Contoh dan argumentasi (5) Penguji posisi (6) Pengetesan asumsi
Kegiatan siswa :
(1)      Temukan dan pilih suatu kasus (2) Kaitkan fakta dengan kasus; rumuskan satu masalah; dan identifikasi konflik nilai (3) Jajaki berbagai posisi nilai; dan antisipasi konsekuesi setiap posisi.(4) Cari variasi contoh yang mendukung, posisi yang dipilih; (5) Nyatakan satu posisi nilai; dan beri penalaran atas posisi tersebut (6) Kaji kesahihan posisi nilai yang dipilih.

PENUTUP

Model pembelajaran jurispudensial ini melatih siswa untuk peka termadap permasalahan sosial, mengambil posisi/sikap terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumentasi-argumentasi yang relevan dan valid.
Hal yang paling tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik antargolongan, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan serta keamanan nasional. Lingkup dan tingkat kemampuan dari masing-masing bidang kajian tersebut, tentu saja harus disesuaikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa.

Semoga bermanfaat !
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Mas Wanto Template | Find The World
Copyright © 2013. Find The World - All Rights Reserved
Template Created by Creating Published by Mas Wanto
Proudly powered by Find The World